Geografi

 

FLORA..

 

 

 

 

 

Indonesia memiliki 17.504 pulau (data tahun 2004; lihat pula: jumlah pulau di Indonesia), sekitar 6.000 di antaranya tidak berpenghuni, menyebar sekitar katulistiwa, memberikan cuaca tropis. Pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, di mana lebih dari setengah (65%) populasi Indonesia hidup. Indonesia terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya.

Indonesia memiliki lebih dari 400 gunung berapi and 130 di antaranya termasuk gunung berapi aktif. Sebagian dari gunung berapi terletak di dasar laut dan tidak terlihat dari permukaan laut. Indonesia merupakan tempat pertemuan 2 rangkaian gunung berapi aktif (Ring of Fire). Terdapat puluhan patahan aktif di wilayah Indonesia.

Daftar isi

[sembunyikan]

Keadaan alam

Sebagian ahli membagi Indonesia atas tiga wilayah geografis utama yakni:

Pada zaman es terakhir, sebelum tahun 10.000 SM (Sebelum Masehi), pada bagian barat Indonesia terdapat daratan Sunda yang terhubung ke benua Asia dan memungkinkan fauna dan flora Asia berpindah ke bagian barat Indonesia. Di bagian timur Indonesia, terdapat daratan Sahul yang terhubung ke benua Australia dan memungkinkan fauna dan flora Australia berpindah ke bagian timur Indonesia. Pada bagian tengah terdapat pulau-pulau yang terpisah dari kedua benua tersebut.

Karena hal tersebut maka ahli biogeografi membagi Indonesia atas kehidupan flora dan fauna yakni:

  • Daratan Indonesia Bagian Barat dengan flora dan fauna yang sama dengan benua Asia.
  • Daratan Indonesia Bagian Tengah (Wallacea) dengan flora dan fauna endemik/hanya terdapat pada daerah tersebut.
  • Daratan Indonesia Bagian Timur dengan flora dan fauna yang sama dengan benua Australia.

Ketiga bagian daratan tersebut dipisahkan oleh garis maya/imajiner yang dikenal sebagai Garis Wallace-Weber, yaitu garis maya yang memisahkan Daratan Indonesia Barat dengan daerah Wallacea (Indonesia Tengah), dan Garis Lyedekker, yaitu garis maya yang memisahkan daerah Wallacea (Indonesia Tengah) dengan daerah IndonesiaTimur.

Berdasarkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993, maka wilayah Indonesia dibagi menjadi 2 kawasan pembangunan:

  • Kawasan Barat Indonesia. Terdiri dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali.
  • Kawasan Timur Indonesia. Terdiri dari Sulawesi, Maluku, Irian/Papua, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

 

Kepulauan Sunda Besar

Terdiri atas pulau-pulau utama: Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi dan dengan ribuan pulau-pulau sedang dan kecil berpenduduk maupun tak berpenghuni. Wilayah ini merupakan konsentrasi penduduk Indonesia dan tempat sebagian besar kegiatan ekonomi Indonesia berlangsung.

Pulau Sumatra

 

. hutan tropic.

Pulau Sumatra, berdasarkan luas merupakan pulau terbesar keenam di dunia. Pulau ini membujur dari barat laut ke arah tenggara dan melintasi khatulistiwa, seolah membagi pulau Sumatra atas dua bagian, Sumatra belahan bumi utara dan Sumatra belahan bumi selatan. Pegunungan Bukit Barisan dengan beberapa puncaknya yang melebihi 3.000 m di atas permukaan laut, merupakan barisan gunung berapi aktif, berjalan sepanjang sisi barat pulau dari ujung utara ke arah selatan; sehingga membuat dataran di sisi barat pulau relatif sempit dengan pantai yang terjal dan dalam ke arah Samudra Hindia dan dataran di sisi timur pulau yang luas dan landai dengan pantai yang landai dan dangkal ke arah Selat Malaka, Selat Bangka dan Laut China Selatan.

Di bagian utara pulau Sumatra berbatasan dengan Laut Andaman dan di bagian selatan dengan Selat Sunda. Pulau Sumatra ditutupi oleh hutan tropik primer dan hutan tropik sekunder yang lebat dengan tanah yang subur. Gungng berapi yang tertinggi di Sumatra adalah Gunung Kerinci di Jambi, dan dengan gunung berapi lainnya yang cukup terkenal yaitu Gunung Leuser di Nanggroe Aceh Darussalam dan Gunung Dempo di perbatasan Sumatra Selatan dengan Bengkulu. Pulau Sumatra merupakan kawasan episentrum gempa bumi karena dilintasi oleh patahan kerak bumi disepanjang Bukit Barisan, yang disebut Patahan Sumatra; dan patahan kerak bumi di dasar Samudra Hindia disepanjang lepas pantai sisi barat Sumatra. Danau terbesar di Indonesia, Danau Toba terdapat di pulau Sumatra.

Kepadatan penduduk pulau Sumatra urutan kedua setelah pulau Jawa.

Saat ini pulau Sumatra secara administratif pemerintahan terbagi atas 8 provinsi yaitu:

 

Pulau Kalimantan (Borneo)

Kalimantan merupakan nama daerah wilayah Indonesia di pulau Borneo (wilayah negara Malaysia dan Brunei juga ada yang berada di pulau Borneo), berdasarkan luas merupakan pulau terbesar ketiga di dunia, setelah Irian dan Greenland. Bagian utara pulau Kalimantan, Sarawak dan Sabah, merupakan wilayah Malaysia yang berbatasan langsung dengan Kalimantan wilayah Indonesia dan wilayah Brunei Darussalam; di bagian selatan dibatasi oleh Laut Jawa. Bagian barat pulau Kalimantan dibatasi oleh Laut China Selatan dan Selat Karimata; di bagian timur dipisahkan dengan pulau Sulawesi oleh Selat Makassar. Di bagian tengah pulau merupakan wilayah bergunung-gunung dan berbukit; pegunungan di Kalimantan wilayah Indonesia tidak aktif dan tingginya dibawah 2.000 meter diatas permukaan laut; sedangkan wilayah pantai merupakan dataran rendah, berpaya-paya dan tertutup lapisan tanah gambut yang tebal.

Pulau Kalimantan dilintasi oleh garis katulistiwa sehingga membagi pulau Kalimantan atas Kalimantan belahan bumi utara dan Kalimantan belahan bumi selatan. Kesuburan tanah di pulau Kalimantan kurang bila dibanding kesuburan tanah di pulau Jawa dan pulau Sumatera, demikian pula kepadatan penduduknya tergolong jarang. Pulau Kalimantan sama halnya pulau Sumatera, diliputi oleh hutan tropik yang lebat (primer dan sekunder). Secara geologik pulau Kalimantan stabil, relatif aman dari gempa bumi (tektonik dan vulkanik) karena tidak dilintasi oleh patahan kerak bumi dan tidak mempunyai rangkaian gunung berapi aktif seperti halnya pulau Sumatera, pulau Jawa dan pulau Sulawesi. Sungai terpanjang di Indonesia, Sungai Kapuas, 1.125 kilometer, berada di pulau Kalimantan.

Saat ini pulau Kalimantan secara administratif pemerintahan terbagi atas 4 provinsi yaitu:

Pulau Jawa

Pulau Jawa, merupakan pulau yang terpadat penduduknya per kilometer persegi di Indonesia. Pulau melintang dari Barat ke Timur, berada di belahan bumi selatan.

Barisan pegunungan berapi aktif dengan tinggi diatas 3.000 meter diatas permukaan laut berada di pulau ini, salah satunya Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Gunung Bromo di Jawa Timur yang terkenal sangat aktif. Bagian selatan pulau berbatasan dengan Samudera India, pantai terjal dan dalam, bagian utara pulau berpantai landai dan dangkal berbatasan dengan Laut Jawa dan dipisahkan dengan pulau Madura oleh Selat Madura. Di bagian barat pulau Jawa dipisahkan dengan pulau Sumatera oleh Selat Sunda dan di bagian timur pulau Jawa dipisahkan dengan pulau Bali oleh Selat Bali.

Hutan di pulau Jawa tidak selebat hutan tropik di pulau Sumatera dan pulau Kalimantan dan areal hutan dipulau Jawa semakin sempit oleh karena desakan jumlah populasi di pulau Jawa yang semakin padat dan umumnya merupakan hutan tersier dan sedikit hutan sekunder. Kota-kota besar dan kota industri di Indonesia sebagian besar berada di pulau ini dan ibukota Republik Indonesia, Jakarta, terletak di pulau Jawa. Secara geologik, pulau Jawa merupakan kawasan episentrum gempa bumi karena dilintasi oleh patahan kerak bumi lanjutan patahan kerak bumi dari pulau Sumatera, yang berada dilepas pantai selatan pulau Jawa.

Saat ini pulau Jawa secara administratif pemerintahan terbagi atas 6 provinsi yaitu:

Pulau Sulawesi

Pulau Sulawesi, merupakan pulau yang terpisah dari Kepulauan Sunda Besar bila ditilik dari kehidupan flora dan fauna oleh karena garis Wallace berada di sepanjang Selat Makassar, yang memisahkan pulau Sulawesi dari kelompok Kepulauan Sunda Besar di zaman es. Pulau Sulawesi merupakan gabungan dari 4 jazirah yang memanjang, dengan barisan pegunungan berapi aktif memenuhi lengan jazirah, yang beberapa di antaranya mencapai ketinggian diatas 3.000 meter diatas permukaan laut; tanah subur, ditutupi oleh hutan tropik lebat (primer dan sekunder).

Sulawesi dilintasi garis katulistiwa di bagian seperempat utara pulau sehingga sebagian besar wilayah pulau Sulawesi berada di belahan bumi selatan. Di bagian utara, Sulawesi dipisahkan dengan pulau MindanaoFilipina oleh Laut Sulawesi dan di bagian selatan pulau dibatasi oleh Laut Flores. Di bagian barat pulau Sulawesi dipisahkan dengan pulau Kalimantan oleh Selat Makassar, suatu selat dengan kedalaman laut yang sangat dalam dan arus bawah laut yang kuat. Di bagian timur, pulau Sulawesi dipisahkan dengan wilayah geografis Kepulauan Maluku dan Irian oleh Laut Banda.

Pulau Sulawesi merupakan habitat banyak satwa langka dan satwa khas Sulawesi; di antaranya Anoa, Babi Rusa, kera Tarsius. Secara geologik pulau Sulawesi sangat labil secara karena dilintasi patahan kerak bumi lempeng Pasifik dan merupakan titik tumbukan antara Lempeng Asia, Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik.

Saat ini pulau Sulawesi secara administratif pemerintahan terbagi atas 6 provinsi yaitu:

Kepulauan Sunda Kecil

Kepulauan Sunda Kecil merupakan gugusan pulau-pulau lebih kecil membujur di selatan katulistiwa dari pulau Bali di bagian batas ujung barat Kepulauan Sunda Kecil, berturut-turut ke timur adalah, pulau Lombok, pulau Sumbawa, pulau Flores, pulau Solor, pulau Alor; dan sedikit ke arah selatan yaitu pulau Sumba, pulau Timor dan pulau Sawu yang merupakan titik terselatan gugusan Kepulauan Sunda Kecil.

Kepulauan Sunda Kecil merupakan barisan gunung berapi aktif dengan tinggi sekitar 2.000 sampai 3.700 meter diatas permukaan laut. Diantaranya yang terkenal adalah Gunung Agung di Bali, Gunung Rinjani di Lombok, Gunung Tambora di Sumbawa dan Gunung Lewotobi di Flores. Kesuburan tanah di Kepulauan Sunda Kecil sangat bervariasi dari sangat subur di Pulau Bali hingga kering tandus di Pulau Timor. Di bagian utara gugus kepulauan dibatasi oleh Laut Flores dan Laut Banda dan di selatan gugus kepulauan ini dibatasi oleh Samudera Hindia. Di bagian barat Kepulauan Sunda Kecil dipisahkan dengan pulau Jawa oleh Selat Bali dan di bagian timur, berbatasan dengan Kepulauan Maluku dan Irian (dipisahkan oleh Laut Banda) dan dengan Timor Timur berbatasan darat di pulau Timor.

Berdasarkan kehidupan flora dan fauna maka sebenarnya pulau Bali masih termasuk Kepulauan Sunda Besar karena garis Wallace dari Selat Makassar di utara melintasi Selat Lombok ke selatan, memisahkan pulau Bali dengan gugusan Kepulauan Sunda Kecil lainnya di zaman es.

Hutan di Kepulauan Sunda Kecil sangat sedikit, bahkan semakin ke timur gugus pulau maka hutan telah berganti dengan sabana; demikian juga kepadatan populasi di Kepulauan Sunda kecil sangat bervariasi, dari sangat padat di pulau Bali dan semakin ke timur gugus pulau maka kepadatan penduduk semakin jarang. Secara geologik, kawasan Sunda Kecil juga termasuk labil karena dilintasi oleh patahan kerak bumi di selatan gugusan Kepulauan Sunda Kecil yang merupakan lanjutan patahan kerak bumi diselatan pulau Jawa. Komodo, reptilia terbesar di dunia terdapat di pulau Komodo, salah satu pulau di kepulauan Sunda kecil. Danau Tiga Warna, merupakan kawasan yang sangat unik juga terdapat di Kepulauan Sunda Kecil, yaitu di Pulau Flores.

Saat ini secara administratif pemerintahan Kepulauan Sunda kecil dibagi atas 3 provinsi yaitu: *Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Kepulauan Maluku dan Irian

Kepulauan Maluku dan Irian, terdiri dari 1 pulau basar yaitu pulau Irian dan beberapa pulau sedang seperti pulau Halmahera, pulau Seram, pulau Buru dan Kepulauan Kei dan Tanimbar serta ribuan pulau-pulau kecil lainnya baik berpenghuni maupun tidak. Garis Weber memisahkan kawasan ini atas dua bagian yaitu Irian dan Australia dengan kepulauan Maluku sehingga di kepulauan Maluku, flora dan fauna peralihan sedangkan di Irian, flora dan fauna Australia.

Sebagian besar kawasan ini tertutup hutan tropik primer dan sekunder yang lebat, kecuali di kepulauan Tanimbar dan Aru merupakan semak dan sabana. Gunung berapi yang tertinggi di kepulauan Maluku adalah Gunung Binaiya, setinggi 3.039 meter; sedangkan di pulau Irian pegunungan berapi aktif memlintang dari barat ke timur pulau, gunung yang tertinggi adalah Puncak Jaya setinggi 5.030 meter di atas permukaan laut.

Pulau Irian juga merupakan pulau dengan kepadatan penduduk yang paling jarang di Indonesia, yaitu sekitar 2 orang per kilometer persegi. Secara geologik, kawasan Maluku dan Irian juga termasuk sangat labil karena merupakan titik pertemuan tumbukan ketiga lempeng kerak bumi, Lempeng Asia, Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik. Palung laut terdalam di Indonesia terdapat di kawasan ini, yaitu Palung Laut Banda, kedalaman sekitar 6.500 meter dibawah permukaan laut.

Saat ini secara administratif pemerintahan Kepulauan Maluku dan Irian dibagi atas:

Iklim

Indonesia mempunyai iklim tropik basah yang dipengaruhi oleh angin monsun barat dan monsun timur. Dari bulan November hingga Mei, angin bertiup dari arah Utara Barat Laut membawa banyak uap air dan hujan di kawasan Indonesia; dari Juni hingga Oktober angin bertiup dari Selatan Tenggara kering, membawa sedikit uap air. Suhu udara di dataran rendah Indonesia berkisar antara 23 derajat Celsius sampai 28 derajat Celsius sepanjang tahun.

Namun suhu juga sangat bevariasi; dari rata-rata mendekati 40 derajat Celsius pada musim kemarau di lembah Palu – Sulawesi dan di pulau Timor sampai di bawah 0 derajat Celsius di Pegunungan Jayawijaya – Irian. Terdapat salju abadi di puncak-puncak pegunungan di Irian: Puncak Trikora (Mt. Wilhelmina – 4730 m) dan Puncak Jaya (Mt. Carstenz, 5030 m).

Ada 2 musim di Indonesia yaitu musim hujan dan musim kemarau, pada beberapa tempat dikenal musim pancaroba, yaitu musim diantara perubahan kedua musim tersebut.

Curah hujan di Indonesia rata-rata 1.600 milimeter setahun, namun juga sangat bervariasi; dari lebih dari 7000 milimeter setahun sampai sekitar 500 milimeter setahun di daerah Palu dan Timor. Daerah yang curah hujannya rata-rata tinggi sepanjang tahun adalah Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, sebagian Jawa barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Maluku Utara dan delta Mamberamo di Irian.

Setiap 3 sampai 5 tahun sekali sering terjadi El-Nino yaitu gejala penyimpangan cuaca yang menyebabkan musim kering yang panjang dan musim hujan yang singkat. Setelah El Nino biasanya diikuti oleh La Nina yang berakibat musim hujan yang lebat dan lebih panjang dari biasanya. Kekuatan El Nino berbeda-beda tergantung dari berbagai macam faktor, antara lain indeks Osilasi selatan atau Southern Oscillation.

Data-data geografis

Lokasi: Sebelah tenggara Asia, di Kepulauan Melayu antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

Koordinat geografis: 5°00′ S 120°00′ T

Referensi peta: Asia Tenggara

Wilayah:
total: 1.919.440 km²
darat: 1.826.440 km²
air: 93.000 km²

Batas-batas negara:
total: 2.830 km
panjang perbatasan negara: Malaysia 1.782 km, Papua Nugini 820 km, Timor Timur 228 km
Negara lainnya yang berdekatan: India di barat laut Aceh, Australia, Singapura

Garis pantai: 54.716 km

Klaim kelautan: diukur dari garis dasar kepulauan yang diklaim
zona ekonomi khusus: 200 mil nautikal
laut yang merupakan wilayah negara: 12 mil nautikal

Cuaca: tropis; panas, lembab; sedikit lebih sejuk di dataran tinggi

Dataran: kebanyakan dataran rendah di pesisir; pulau-pulau yang lebih besar mempunyai pegunungan di pedalaman

Tertinggi & terendah:
titik terendah: Samudra Hindia 0 m
titik tertinggi: Puncak Jaya 5.030 m

Sumber daya alam: minyak tanah, kayu, gas alam, kuningan, timah, bauksit, tembaga, tanah yang subur, batu bara, emas, perak

Kegunaan tanah:
tanah yang subur: 9,9%
tanaman permanen: 7,2%
lainnya: 82,9% (perk. 1998)

Wilayah yang diairi: 48.150 km² (perk. 1998)

Bahaya alam: banjir, kemarau panjang, tsunami, gempa bumi, gunung berapi, kebakaran hutan, gunung lumpur, tanah longsor.

Lingkungan – masalah saat ini: penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan; polusi air dari limbah industri dan pertambangan; polusi udara di daerak perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia); asap dan kabut dari kebakaran hutan; kebakaran hutan permanen/tidak dapat dipadamkan; perambahan suaka alam/suaka margasatwa; perburuan liar, perdagangan dan pembasmian hewan liar yang dilindungi; penghancuran terumbu karang; pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju; pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan; semburan lumpur liar di Sidoarjo, Jawa Timur.

Lingkungan – persetujuan internasional:
bagian dari: Biodiversitas, Perubahan Iklim, Desertifikasi, Spesies yang Terancam, Sampah Berbahaya, Hukum Laut, Larangan Ujicoba Nuklir, Perlindungan Lapisan Ozon, Polusi Kapal, Perkayuan Tropis 83, Perkayuan Tropis 94, Dataran basah
ditanda tangani, namun belum diratifikasi: Perubahan Iklim – Protokol Kyoto, Pelindungan Kehidupan Laut

Geografi – catatan: di kepulauan yang terdiri dari sekitar 17.504 pulau (6.000 dihuni); dilintasi katulistiwa; di sepanjang jalur pelayaran utama dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik

 

ANALISIS PENGELOLAAN

MANGROVE PANTAI TIMUR PROPINSI JAMBI

A.ASPEK PENGELOLAAN DAN KEBIJAKAN

Kebijaksanaan penetapan dan pengelolaan kawasan Cagar Alam hutan bakau Pantai Timur dimaksudkan agar kawasan tersebut dapat dikelola dengan melakukan upaya-upaya pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan jenis satwa beserta ekosistemnya. Upaya-upaya pengawetan kawasan Cagar Alam dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pokok yaitu :

1.             Perlindungan dan pengamanan kawasan

2.             Inventarisasi potensi jenis

3.             Penelitian dan pengembangan dalam menunjang pengawetan.

Upaya-upaya pengawetan kawasan Cagar Alam dilaksanakan dengan ketentuan dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan keutuhan kawasan, yaitu kegiatan-kegiatan :

1.             Melakukan perburuan terhadap satwa yang berada di dalam kawasan

2.             Memasukkan jenis-jenis tumbuhan dan satwa bukan asli ke dalam    kawasan

3.             Memotong, merusak, mengambil, menebang dan memusnahkan tumbuhan dan satwa di dalam dan dari kawasan

4.             Menggali atau membuat lubang pada tanah yang mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa liar dalam kawasan.

5.             Mengubah bentang alam kawasan yang mengusik dan mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa.

Dengan banyaknya batasan-batasan dan larangan-larangan yang dapat dilakukan pada kawasan Cagar Alam, maka kebijaksanaan pengelolaannya juga terbatas dan pemanfaatannya juga terbatas untuk keperluan :

1.             Penelitian dan pengembangan

2.             Ilmu Pengetahuan

3.             Pendidikan

4.             Kegiatan penunjang budidaya.

Oleh karena itu kebijaksanaan pengelolaan kawasan Cagar Alam Hutan Bakau Pantai Timur diarahkan untuk dapat menjamin dan menjaga keutuhan dan keaslian kawasan, setiap populasi tumbuhan dan satwa dapat berkembang secara seimbang menurut proses alam dihabitatnya serta bebas dari semua bentuk gangguan dan permasalahan yang menyebabkan kepunahan.

Pengelolaan kawasan CA. Hutan Bakau Pantai Timur harus dilihat secara utuh (termasuk daerah litorial dan pantai disekitarnya), sehingga proses pertumbuhan ekologisnya dapat terjamin guna aktualitas peranannya dalam kestabilan fisik daratan, kelestarian lingkungan hidup. Dengan demikian perlindungan ekosistem hutan bakau dan keberadaanya secara lestari dapat berfungsi dalam pemeliharaan kebutuhan kehidupan sosial, ekonomi dan manfaat bagi kehidupan manusia. Upaya pengelolaan kawasan CA. Hutan Bakau Pantai Timur dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pokok yaitu :

1.             Perlindungan keutuhan dan keaslian ekosistem Hutan Mangrove dalam kawasan cagar alam sebagai satu kesatuan pengelolaan konservasi kawasan.

2.             Mewujudkan manfaat potensi kawasan dan sumber daya hayati di dalamnya bagi masyarakat dan pembangunan daerah secara berkelanjutan.

3.             Meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam perlindungan dan pemanfaatan lestari potensi kawasan dan keanekaragaman hayati di dalamnya.

Sesuai dengan Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya maka pengelolaan kawasan CA. Hutan Bakau Pantai Timur akan berpedoman dan mengacu pada undang-undang tersebut diatas, dimana sebagai kawasan yang berfungsi pengawetan tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya dan juga sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan maka kegiatan yang dilarang adalah kegiatan yang mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan (kerusakan kawasan dan ekosistemnya, perburuan satwa, memasukkan jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli).

Sedangkan kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kegiatan yang menunjang budidaya (pemanfaatan plasma nutfah di dalam cagar alam untuk keperluan pemuliaan jenis dan penagkaran diluar cagar alam).

B.ASPEK SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA

Pengelolaan Cagar Alam Hutan Bakau Pantai Timur mempunyai dampak positif terhadap pembangunan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat sekitar kawasan.

Hutan bakau atau biasa disebut hutan mangrove merupakan salah satu sumber daya hutan yang bersifat potensial apabila dikelola dan dimanfaatkan sebaik-baiknya secara lestari, sehingga dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi pembangunan dan kesejahteraan rakyat di sekitarnya. Sebab apabila hutan mangrove rusak maka dampak yang diakibatkan akan sangat luas, baik aspek ekologis maupun sosial ekonomi, upaya pemulihan seperti keadaan seperti keadaan semula memerlukan biaya yang sangat besar dan waktu yang relatif lama.

Hutan mangrove di Jambi membentang sepanjang pantai timur Propinsi Jambi, pemanfaatan yang masih menonjol saat ini adalah pemanfataan kayu mangrove untuk keperluan cerucup rumah-rumah panggung, jembatan yang menghubungkan parit tersier dengan parit lailnnya dan untuk keperluan tiang-tiang pancang belat nelayan di laut. Terlepas dari kegiatan yang dapat mengganggu keberadaan hutan bakau, ternyata secara tradisional hutan bakau dapat memberikan sumbangan ekonomi bagi para nelayan.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan terhadap pengambilan manfaat hutan bakau secara tradisional, terlihat pola pemanfaatan yang dilakukan hampir sama pada semua desa yang berbatasan langsung dengan hutan bakau (Desa Simbur Naik, Lambur, Alang-Alang Kampung Laut, Mendahara, Lagan dan Desa Pangkal Duri). Kesamaan pola terlihat pada jenis pemanfaatan yang dilakukan (menangkap udang, kerang, kepiting, siput dan ikan dengan cara alat tradisional yang tidak merusak ekosistem hutan).

Jadi keberadaan hutan bakau secara langsung maupun tidak langsung memberikan pengaruh yang nyata terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitarnya. Bagi nelayan tradisional hutan bakau merupakan sumber kehidupan utama yang tidak dapat diabaikan. Untuk itu meningkatkan pengetahuan keterampilan masyarakat di daerah sekitar Hutan Bakau Pantai Timur perlu lebih dikembangkan proyek-proyek percontohan yang berkaitan dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat (mata pencaharian alternatif) seperti kerambah kepiting, pembuatan gula nipah, dan lebah madu.

CAGAR ALAM

Kawasan cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami.

 

Adapun Kriteria untuk penunjukkan dan penetapan sebagai kawasan cagar alam :

mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa dan tipe ekosistem;

mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusunnya;

mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia;

mempunyai luas yang cukup dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif dan menjamin keberlangsungan proses ekologis secara alami;

mempunyai ciri khas potensi dan dapat merupakan contoh ekosistem yang keberadaannya memerlukan upaya konservasi; dan atau

mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa beserta ekosistemnya yang langka atau yang keberadaannya terancam punah.

 

Pemerintah bertugas mengelola kawasan cagar alam. Suatu kawasan cagar alam dikelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya.

 

Rencana pengelolaan cagar alam sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan.

 

Upaya pengawetan kawasan cagar alam dilaksanakan dalam bentuk kegiatan :

perlindungan dan pengamanan kawasan

inventarisasi potensi kawasan

penelitian dan pengembangan yang menunjang pengawetan.

 

Beberapa kegiatan yang dilarang karena dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan cagar alam adalah :

melakukan perburuan terhadap satwa yang berada di dalam kawasan

memasukan jenis-jenis tumbuhan dan satwa bukan asli ke dalam kawasan

memotong, merusak, mengambil, menebang, dan memusnahkan tumbuhan dan satwa dalam dan dari kawasan

menggali atau membuat lubang pada tanah yang mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa dalam kawasan, atau

mengubah bentang alam kawasan yang mengusik atau mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa

 

Larangan juga berlaku terhadap kegiatan yang dianggap sebagai tindakan permulaan yang berkibat pada perubahan keutuhan kawasan, seperti :

memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas kawasan, atau

membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil, mengangkut, menebang, membelah, merusak, berburu, memusnahkan satwa dan tumbuhan ke dan dari dalam kawasan.

 

Sesuai dengan fungsinya, cagar alam dapat dimanfaatkan untuk

penelitian dan pengembangan

ilmu pengetahuan

pendidikan

kegiatan penunjang budidaya.

 

 

. CAGAR ALAM .

 

 

FAUNA

Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan

 

TWAL Gili Meno, Gili Air, dan Gili Trawangan biasa disebut dengan Gili Matra atau TWAL Gili Indah, mempunyai luas 2.954 Ha terdiri dari daratan seluas 665 Ha dan selebihnya perairan laut. Taman Wisata Laut Gili Air, Gili Meno, Gili Trawangan memiliki potensisumber daya alam yang tinggi, berupa biota laut maupun flora dan fauna daratan. Berbagai biota laut yang dijumpai adalah berupa Karang laut seperti Karang Lunak (Heliophora sp), (Labophyelia sp) dan lain-lain.Karang Keras (Millephora sp), (Anthipathes sp), (Manthipora sp) dan lain-lain, serta berbagai macam jenis ikan hias (Balistapus undulates), (Lethrinus nuburotus), (Platakpinatus), dan lain-lain. Vegetasi daratan yang dijumpai merupakan vegetasi yang dianggap tumbuh secara alami seperti Asam Laut (Temarindus indica), Waru Laut (Hibiscus tiliaceus), Ketapang (Terminalia cattapa) dan lainnya, serta vegetasi yang sudah diusahakan oleh masyarakat setempat seperti Kelapa ( Cocos nucifera ), Bambu ( Bambusa sp ), Pisang dan tanaman pertanian lainnya. Fauna atau satwa liar yang dapat dengan mudah dijumpai antara lain jenis burung daratan dan itik liar. Dari hasil survey terdapat 54 marga dan 148 jenis karang yang tersebar di ketiga Gili ini, Karang yang tumbuh didominasi oleh Ascropra sp, yang tumbuh pada kedalaman sekitar 3-16 meter dari permukaan laut. Sedangkan di Gili Indah terdapat 26 suku dan 167 jenis ikan, sebagian dari ikan-ikan tersebut merupakan ikan yang mempunyai warna yang indah dan menarik. Kawasan ini menjadi obyek wisata bahari yang sangat digemari oleh wisatawan baik mancanegara maupun domestik, terutama untuk snorkeling, fishing, diving, surfing, sun bathing, shifting dan camping.

 

Taman Wisata Alam (TWA) Bangko-Bangko

 

TWA Bangko-Bangko terletak di desa Pelangan Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat dengan luas areal 2.169 Ha, tepatnya terletak di bagian paling barat dari Kabupaten Lombok Barat bagian selatan sampai dengan garis pantai selat Lombok.

Secara umum tipe vegetasi terdiri dari dua tipe yaitu sebagian kecil merupakan Vegetasi Pantai dan Vegetasi Hutan Hujan Dataran Rendah.

 

Vegetasi Pantai meliputi antara lain dari Famili Bruguiera, Pandanaceae, Soneratiaceae dan Rubiaceae. Sedangkan Vegetasi Hutan Hujan Dataran Rendah meliputi jenis-jenis antara lain Bajur (Pterospermum javanicum), Kesambi (Schleicera oleosa), Waru (Hibiscus tiliaceus). Jenis satwa meliputi Jenis Burung yaitu Ayam Hutan (Gallus varius), Perkutut (Geopeha striata), Elang Bondol (Haliastur Indus), Punglor (Zoothera interpress) dan Koa Kiau (Phylemon buceroides). Jenis Mamalia antara lain: Kera Abu-abu (Macaca fascicularis), Rusa (Cervus timorensis) dan Babi Hutan (Sus sp). Aktivitas wisata yang dapat dilakukan selain surfing adalah mandi sinar matahari (berjemur), berenang, tracking dan wisata budaya.

 

TWA Kerandangan

 

TWA Kerandangan termasuk desa Senggigi kecamatan Batu Layar Kabupaten Lombok Barat dengan luas areal 396,10 Ha.

Berdasarkan kelompok hutan termasuk dalam kelompok Hutan Rinjani, terdiri dari tipe hutan hujan tropis dan hutan musim. Berdasarkan survey potensi dan kondisi hutan kelompok Hutan Rinjani,

terdapat berbagai jenis pohon antara lain Ajan atau Kelicung (Dyospiros malabarica), Bua Odak, Bajur, Garu, Klokos Udang (Dracontomelon mangiferum), Terep (Artocorput elasticus), Bintangur (Callophyllum inophylum), Sentul (Aglaia sp), Goa (Ficus sp), Sonokeling (Dalbergia latifolia), Kayu Suren (Toona sureni), Sengon Laut (Albizia falcataria), Kayu Manis (Cinamomum burmanii), Tusam (Pinus merkusii), Kayu Damar (Agathis lorentifolia), Mahoni (Swietenia macrophylla), Kemiri (Aleurites mollucana), dan Bajur (Pterospermum javanicum).

 

Jenis-jenis satwa liar yang terdapat dalam kawasan Tanaman Wisata Alam Kerandangan antara lain Ayam Hutan (Gallus varius), Cerucuk (Pycnonotus goiavier), Koa Kiau (Phylemmon buceroides), Punai (Treron alax), Kecial (Zosterops wallacel), Biawak (Varanus salvator), Damar (Chlorphage hicolus), Srigunting (Dicruru cinensis), Kera Abu-abu (Macaca jascicularis), Raja Udang (Halcyon chloris), Kepodang (Oriolus chinensis), Kecuit (Nectarina vugularis), beraneka kupu-kupu.

 

Sebagai salah satu TWA Pegunungan yang memiliki lembah dan air terjun, TWA ini memiliki potensi wisata seperti panorama lembah yang sangat indah, Air Terjun Putri Kembar, Air terjun Goa Walet, dan Eat Beraik.

Sarana dan prasarana yang telah ada berupa pondok kerja, jalan trail, radio komunikasi serta sarana penunjang wisata berupa penginapan, restoran, pondok wisata, dan sarana komunikasi.

 

Untuk mencapai kawasan ini dapat melalui :

 

- Mataram – Senggigi – Kerandangan dengan kendaraan darat ± 25 menit

- Bali – Teluk Kode dengan kapal cepat

- Teluk Kode – Kerandangan ± 35 menit

 

TWA Danau Taliwang

 

 

TWA Danau Taliwang merupakan kawasan perairan air tawar yang terletak di Kabupaten Sumbawa Barat. Danau Taliwang sesungguhnya merupakan daerah tangkapan air (catchment area) kawasan perbukitan sekitarnya dengan badan sungai Taliwang di bagian selatan.

 

Namun sejak 1999 daur hidrologi ini terganggu sejak terbangunnya jaringan irigasi yang melintas batas Rawa Taliwang dari timur ke barat yang memisahkan rawa tersebut dengan sungai taliwang. Disamping hal tersebut, TWA Danau Taliwang memiliki potensi berbagai jenis flora yang merupakan vegetasi asli type hutan tropis antara lain: Lita (Alstonia scholaris), Berora (Klenhovia hosvita), Ketimus (Protium javanicum) dan Bungur (Lagerstoemia indica), adapun jenis tumbuhan air lain yang menutupi perairan rawa Taliwang yaitu eceng gondok.

 

Berdasarkan hasil pengamatan, kawasan hutan rawa taliwang menyimpan sekitar 25 jenis fauna, utamanya satwa-satwa penghuni habitat air tawar yang meliputi jenis burung antara lain : Bangau Hitam (Liconia episcopus), Itik Liar (Cairima scutulata), Kuntul Putih (Egreta egretta) serta Burung Pelikan (Pelicanedae).

 

Jenis burung terakhir ini merupakan jenis burung migrant, yang berasal dari Australia. Babi Hutan, Kera abu-abu dan Ayam Hutan juga terdapat pada daerah perbukitan, serta berbagai jenis reptil seperti Ular Sanca/Sawah, Kura-kura dan Biawak yang menempati lokasi bagian selatan rawa taliwang. Kegiatan wisata yang umumnya dilakukan pada TWA ini adalah pengamatan burung, bersampan, pendidikan dan penelitian.

 

Taman Nasional Gunung Rinjani

 

Taman Nasional Gunung Rinjani adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan system zonasi dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.

 

Fungsi pokok yaitu:

 

a) Perlidungan sistem penyangga kehidupan.

b) Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya.

c) Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

 

Jenis-jenis vegetasi asli antara lain Bajur (Pterospermum javanicum), Kukun (Sehrutenia ovata), Cemara Gunung (Casuarina trifolia), Garun (Disoxylum sp), Benuang (Duahanga mollucana), Kemiri (Aleurites mollucana),

Beringin (Ficus superba), Suren (Toona sureni) dan beberapa jenis Perdu, Liana, Anggrek serta Paku-pakuan. Adapun vegetasi hasil reboisasi antara lain berupa Albizia (Albizia falcate), Bajur (Pterospermum javanicum), Mahoni (Swietenia mahagoni), Durian (Durio zibethinus) dan Akasia (Acacia ducurrens) dan beberapa jenis buah-buahan. Sedangkan hutan alam cemara terjadi akibat adanya pembakaran yang terjadi hampir setiap tahun. Vegetasi sub alpin ditemukan pada ketinggian di atas 2.000 m dari permukaan laut. Jenis tumbuhan yang banyak ditemukan adalah jenis Edelweis, Cantigi gunung, Cemara gunung dan berbagai jenis rumput.

 

Jenis fauna yang ada yaitu Rusa Timor (Cervus timorensis), Babi Hutan (Sus scrofa, Sus vitatus), Kera Abu-abu ekor panjang (Macaca fascicularis), Kera Hitam (Presbytis creitata), Musang (Paradoxurus hermaproditus rinjanicus). Disamping itu terdapat berbagai jenis burung diantaranya Burung Gosong (Megapodius renwardtii), Kakatua putih kecil jambul kuning

(Cacatua sulphurea cidentalis), Koa Kiau (Philemon buceroides), Perkici Dada

Merah (Trichoglossus haematodus mitchelli), Ayam Hutan (Gallus varius), Burung Penghisap Madu Lombok (Lichmera lombokia), Punglor (Zoothera interpres) dan banyak sekali dijumpai burung-burung kecil.

 

Disamping itu terdapat pula potensi air terjun yaitu Air Terjun Jeruk Manis, Air Terjun Sindang Gila, juga terdapat pemandian Otak Kokok, Aik Kalak, Kolam Pemandian Air Panas serta sebuah danau yaitu Danau Segara Anakan.

 

 

 

 

Rabu, 19 September 2007

Potensi NTBPOTENSI SUMBER DAYA PETERNAKAN

Sumber Daya Peternakan memiliki peranan penting dalam pengembangan sosial ekonomi masyarakat

POTENSI SUMBER DAYA PERTANIAN DAN PANGAN

Sebelum tahun 1980 NTB merupakan daerah rawan pangan, namun sejak berhasilnya sistem Tanam Gogo Rancah pada tahun 1981 dan menjadi daerah penghasil beras (pangan), mulai tahun 1984 menjadi pendukung stock pangan nasional

POTENSI SUMBER DAYA ENERGI

Pembangunan ketenagalistrikan di NTB diarahkan untuk diversifikasi pemanfaatan energi primer pembangkit tenaga listrik, baik fosil maupun non fosil dalam rangka mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan

POTENSI SUMBER DAYA MINERAL

Sebagai hasil proses geologi yang terus berlanjut di berbagai lokasi, telah dihasilkan berbagai jenis bahan galian, diantaranya: emas, perak, tembaga, timah hitam, pasir besi, mangan, belerang, kaolin, gipsum, tanah liat, batuapung, tras, batukapur, marmer, kalsit, batu, dan pasir

 

 

KAWASAN SUAKA MARGASATWA

Kawasan suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya.

 

Adapun kriteria untuk penunjukkan dan penetapan sebagai kawasan suaka margasatwa:

merupakan tempat hidup dan perkembangbiakan dari jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasinya;

merupakan habitat dari suatu jenis satwa langka dan atau dikhawatirkan akan punah;

memiliki keanekaragaman dan populasi satwa yang tinggi;

merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu; dan atau

mempunyai luasan yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan.

 

Pemerintah bertugas mengelola kawasan suaka margasatwa. Suatu kawasan suaka margasatwa dikelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya.

 

Rencana pengelolaan suaka margasatwa sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan.

 

Upaya pengawetan kawasan suaka margasatwa dilaksanakan dalam bentuk kegiatan :

perlindungan dan pengamanan kawasan

inventarisasi potensi kawasan

penelitian dan pengembangan yang menunjang pengawetan.

pembinaan habitat dan populasi satwa

 

Pembinaan habitat dan populasi satwa, meliputi kegiatan :

pembinaan padang rumput

pembuatan fasilitas air minum dan atau tempat berkubang dan mandi satwa

penanaman dan pemeliharaan pohon-pohon pelindung dan pohon-pohon sumber makanan satwa

penjarangan populasi satwa

penambahan tumbuhan atau satwa asli, atau

pemberantasan jenis tumbuhan dan satwa pengganggu.

 

Beberapa kegiatan yang dilarang karena dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan suaka margasatwa alam adalah :

melakukan perburuan terhadap satwa yang berada di dalam kawasan

memasukan jenis-jenis tumbuhan dan satwa bukan asli ke dalam kawasan

memotong, merusak, mengambil, menebang, dan memusnahkan tumbuhan dan satwa dalam dan dari kawasan

menggali atau membuat lubang pada tanah yang mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa dalam kawasan, atau

mengubah bentang alam kawasan yang mengusik atau mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa

 

Larangan juga berlaku terhadap kegiatan yang dianggap sebagai tindakan permulaan yang berkibat pada perubahan keutuhan kawasan, seperti :

memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas kawasan, atau

membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil, mengangkut, menebang, membelah, merusak, berburu, memusnahkan satwa dan tumbuhan ke dan dari dalam kawasan.

 

Sesuai dengan fungsinya, cagar alam dapat dimanfaatkan untuk

penelitian dan pengembangan

ilmu pengetahuan

pendidikan

wisata alam terbatas

kegiatan penunjang budidaya.

 

Kegiatan penelitian di atas, meliputi :

penelitian dasar

penelitian untuk menunjang pemanfaatan dan budidaya.

 

 

.FAUNA.


0 Responses to “FLORA FAUNA”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




April 2014
S S R K J S M
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Arsip

tugas

Komentar Terakhir

Hardityo BL on geomorfologi

Blog Stats

  • 43,775 hits

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 6 pengikut lainnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: